Banda Aceh — Semangat melestarikan budaya Aceh terus ditanamkan di lingkungan SD Negeri 2 Banda Aceh melalui kegiatan Seudati (Sehari Berbudaya Pasti Aceh). Pada kegiatan Seudati minggu ini, Kamis (27/8), peserta didik diajak mengenal sekaligus mempraktikkan pembuatan Bluet, salah satu kerajinan tangan tradisional Aceh yang dibuat dari anyaman daun kelapa.
Seudati merupakan kegiatan pra-pembelajaran yang dilaksanakan secara rutin setiap minggu dengan mengangkat tema-tema yang dekat dengan kehidupan dan budaya Aceh. Secara bergiliran, peserta didik diperkenalkan dengan berbagai aspek budaya lokal melalui tema Budaya Aceh, Peunajoh Aceh (Makanan Aceh), dan Buet Jaroe (Kerajinan Tangan).
Pada tema Buet Jaroe kali ini, peserta didik mendapatkan pengalaman langsung untuk mengenal bahan, proses, serta teknik sederhana dalam membuat Bluet. Kegiatan dilakukan secara praktik sehingga peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang kerajinan tradisional, tetapi juga belajar menghargai keterampilan dan kreativitas masyarakat Aceh.
Suasana kegiatan berlangsung antusias. Peserta didik terlihat bersemangat mengikuti setiap tahapan pembuatan Bluet dengan didampingi oleh guru. Melalui kegiatan tersebut, nilai-nilai seperti ketelitian, kesabaran, kreativitas, kerja sama, dan kecintaan terhadap budaya daerah turut ditanamkan.
Kepala SD Negeri 2 Banda Aceh, Sarniyati Yusmanita, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa Seudati menjadi salah satu upaya sekolah untuk mendekatkan peserta didik dengan budaya Aceh melalui pengalaman yang nyata dan menyenangkan.
“Seudati merupakan bagian dari ikhtiar kita untuk mengenalkan dan menanamkan kecintaan terhadap budaya Aceh sejak dini. Anak-anak tidak hanya mendengar atau melihat, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk mencoba dan mengalami langsung. Melalui kegiatan membuat Bluet, mereka belajar bahwa budaya dan keterampilan tradisional merupakan warisan yang perlu kita kenal, hargai, dan lestarikan,” ujar Sarniyati Yusmanita.
Menurutnya, pembelajaran berbasis budaya juga sejalan dengan upaya sekolah membentuk peserta didik yang memiliki wawasan luas tanpa kehilangan jati diri dan akar budayanya.
“Kami ingin anak-anak tumbuh menjadi generasi yang berwawasan global, tetapi tetap mengenal dan bangga terhadap budaya Aceh. Seudati menjadi ruang bagi anak-anak untuk belajar bahwa budaya lokal juga memiliki nilai, kreativitas, dan kearifan yang luar biasa,” tambahnya.
Kegiatan Seudati akan terus dilaksanakan dengan tema yang beragam setiap minggunya. Melalui Budaya Aceh, Peunajoh Aceh, dan Buet Jaroe, SD Negeri 2 Banda Aceh berkomitmen menghadirkan pengalaman belajar yang kontekstual, menyenangkan, sekaligus menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya Aceh melalui generasi penerus.












